Latar Belakang
Cirebon merupakan salah satu kota yang secara administratif berada dalam Provinsi Jawa Barat. Kawasan Cirebon terbagi menjadi dua kawasan, yaitu Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Beberapa obyek wisata yang dapat ditemukan di Kota Cirebon adalah wisata sejarah, wisata budaya, wisata spiritual, wisata ziarah, wisata belanja serta kegiatan wisata lainnya yang dapat ditemukan di Kota Cirebon. Sedangkann untuk kegiatan wisata yang ada di Kabupaten Cirebon adalah agrowisata serta outbond.
Kota Cirebon sangat terkenal dengan berbagai obyek wisata budaya berupa benda-benda peninggalan dari Sunan Gunung Jati (Sunan Cirebon), yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon yang terletak di jalan Lemah Wungkuk Kota Cirebon yang saat ini dipimpin oleh PRA. Arief Natadiningrat, SE (Sultan Sepuh XIV). Di dalam obyek wisata budaya Keraton Kasepuhan Cirebon terdapat berbagai peninggalan benda-benda pusaka dari Pangeran Walangsungsang (Mbah Kuwu Cerbon), Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah), serta peninggalan lainnya yang masih tersimpan rapi di dalam musium benda kuno yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon. Selain benda-benda kuno yang ada di musium benda kuno juga terdapat piring-piring serta porselen peninggalan dari kerajaan Cina, Belanda serta portugis yang dapat ditemukan di Bangsal Keraton (ruangan keraton). Di dalam musium kereta singa barong terdapat kereta singa barong yang dibuat pada tahun 1549 (pada tahun1942 sudah tidak digunakan lagi), serta duplikatnya yang dibuat pada tahun 1996 digunakan dalam kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN).
Pelaksanaan kegiatan wisata yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon diperlukan suatu manajemen pengelolaan yang lebih terarah serta terstruktur, agar dalam pengembangannya dapat mencapai suatu tujuan yang telah ada dalam perencanaan manajemen kegiatan pengelolaan yaitu agar pengunjung maupun wisatawan ikut menjaga serta melestarikan peninggalan yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon. Selain dapat menjamin kesejahteraan para abdi dalam yang telah ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan wisata yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon selain itu ikut menjaga serta melestarikan kebudayaan keraton Kasepuhan Cirebon.
Kegiatan pengelolaan yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon seharusnya tidak terlepas dari kerja sama dengan Departemen Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Cirebon dengan tujuan agar suatu manajemen pengelolaan yang telah tersusun sebelumnya dapat berjalan secara optimal dan diharapkan dapat menjaga serta melestarikan kegiatan pariwisata di Keraton Kasepuhan Cirebon. Selain dapat meningkatkan kesejahteraan bagi para abdi dalam yang telah ikut melestarikan kegiatan wisata yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kota Cirebon. Pada mulanya Keraton ini dibangun pada tahun 1430 SM oleh Pangeran Walangsungsang (Mbah Kuwu Cerbon) merupakan putra dari Prabu Siliwangi dengan ibundanya Subanglarang. Pada awalnya Keraton Kasepuhan bernama Keraton Pakungwati diambil dari nama Nyi Mas Pakungwati (pakung= udang, wati= wanita). Kemudian pada tahun 1529 SM keraton pakungwati diperluas ke arah barat daya oleh Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) merupakan putra dari Nyi Mas Lara Santang serta merupakan keponakan Pangeran Walangsungsang sekaligus menantu dari Pangeran Walangsungsang. Pada tahun 1679 nama Pakungwati dirubah nama menjadi Keraton Kasepuhan karena pada waktu yang bersamaan dibangun Keraton ke-2 yang dinamakan Keraton Kanoman. Karena masing-masing dari sultan tersebut merupakan kakak-beradik. Kasepuhan (sepuh) = tua, kanoman (anom) = muda.
Kondisi Fisik Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Kasepuhan memiliki empat obyek wisata yang dapat dinikmati oleh para pengunjung maupun wisatawan yang datang ke kawasan Keraton Kasepuhan Cirebon, yaitu Bangsal Keraton, Musium Benda Kuno, Musium Kereta Singa Barong, dan Dalem Agung Pakungwati.
Bangsal keraton merupakan ruangan keraton yang difungsikan sebagai tempat peristirahatan serta singasana bagi sultan pada masa pemerintahan kerajaan. Di dalam bangsal keraton memiliki berbagai obyek wisata yang menarik untuk dilihat dan disaksikan berbagai kemewahan serta keunikan dari setiap bangunan yang ada di dalamnya:
1. Jinem pangrawit merupakan serambi depan keraton, kata jinem pangrawit diambil dari nama jinem=kejineman (tempat tugas), pangrawit=dari kata rawit (kecil) yang dimaksud haluus atau bagus (baik), fungsinya untuk tempat tugas Pangeran Patih atau wakil sultan menerima tamu.
2. Pintu buk bacem berada disebelah barat dan timur Jinem Pangrawit berupa tembok lengkung (hoeg atau buk) berdaun pintu kayu. Kayunya dibacem terlebih dahulu (direndam dengan diberi ramuan). Fungsi pintu buk bacem yang terletak di sebelah barat untuk para pengunjung maupun wisatawan, sedangkan yang berada di sebelah timur untuk keluar-masuk penghuni Kraton tiap hari (keluarga kraton).
3. Los Gajah Nguling, Los Gajah Nguling dibangun pada tahun 1845 oleh Sultan Sepuh IX merupakan bangunan tanpa dinding bertiang putih sebagai simbol dari gajah sedang nguling (menguap). Diambil dari filosofi hidup harus hemat tidak boleh hidup boros (hemat pangkal kaya), fungsi dari Los Gajah Nguling penghubung jinem pangrawit dengan bangsal pringgandani.
4. Bangsal Pringgandani diambil dari cerita pewayangan berada di sebelah dalam Los Gajah Nguling, berfungsi untuk tempat rapat atau pertemuan dengan para Bupati Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka.
5. Bangsal prabayaksa berada disebelah dalam bangsal pringgandani. Praba=sayap, yaksa=besar, yang berarti sultan melindungi rakyat dengan kedua tangannya yang besar seperti induk ayam melindungi anaknya dengan kedua sayapnya. Yang dimaksud disini besar kekuasaannya. Bangsal Prabayaksa dibangun pada tahun 1682 oleh sultan sepuh I, dan fungsinya untuk tempat sidang para Mentri Negara Kraton. Di Bangsal Prabayaksa terdapat meja dan kursi bercat kuning gading dibuat pada tahun 1738 juga lampu kristal dari Prancis tahun 1738 dan lampu storlop prasman dari VOC tahun1745, di tembok bangsal terpasang tegel-tegel porselen berwarna biru dan coklat dari VOC, tegel coklat gambarnya mengandung cerita dari Injil juga piring-piring keramik dari cina dinasti Han Boe Tjie tahun 1424, 3 buah lukisan dari Belanda dan 1 buah dari Jerman tahun 1745. Di tembok Bangsal Prabayaksa terdapat 4 buah relief karya P. Arya Carbon kararangen tahun 1710 (adik sultan sepuh II). Relief ini dinamai kembang kanigaran artinya artinya: Lambang kenegaraan, yang dimaksud: Sri Sultan dalam memegang tampuk kenegaraan.
6. Bangsal Agung Panembahan berada disebelah selatan Bangsal Prabayaksa naik tangga terdapat ruangan yang disebut bangsal Agung panembahan, fungsinya untuk tempat singgasana Gusti Panembahan. Di dalam Bangsal Agung Panembahan terdapat kursi singgasanan dengan mejanya berkaki gambar ular yang melambangkan: dahulu ucapan raja merupakan hukum, di belakang singgasana terdapat tempat tidur yang disebut ranjang kencana untuk istirahat siang Raja atau Sultan, sebelah kanan dan kiri singgasana terdapat meja dan kursi untuk permaisuri dan putra mahkota bila berkenan hadir. Sekarang bangsal panembahan dipergunakan untuk sesaji sarana panjang jimat (selamatan maulud) yang mengerjakan kaum Masjid Agung dan disaksikan oleh Sultan, Raden Ayu dan Kerabat Keraton, waktunya ba’da Isya tanggal 12 rabiul awal, setelah selesai diiringi menuju langgar agung. Lantai Bangsal Agung panembahan masih asli tahun 1529, sedangkan lantai bangsal Prabayaksa dan Pringgandani sudah diganti tahun 1943 dan Jinem Pangrawit 1997.
7. Langgar Alit berada di sebelah Barat Bangsal Pringgandani merupakan bangunan tanpa dinding yang berfungsi untuk tadarusan setelah salat tarawih kemudian membunyikan terbang atau gembyung pada tanggal 15 Ramadhan diadakan slamatan Khatam Qur’an ke I,tanggal 17 Ramadhan peringatan Nuzulul Qur’an, tanggal 29 Ramadhan maleman, tanggal 30 ramahan Khatam ke II, tanggal 1 syawal setelah shalat isya diadakan Isro Mi’raj (rajaban), tanggal 15 sya’ban diadakan nifsu sya’ban (rewahan), dan peringatan hari-hari besar islam hingga sekarang.
